Once Upon a Time in Sakuragaoka(3)

| Comments

Buat semua yang mengikuti cerita ini, terimakasih… Judul aslinya masih belum ditentukan jadi untuk sementara waktu akan tetap seperti itu… sedang berharap ada yang mau membuatkan ilustrasi (hahaha) “…” Shika terdiam. “Hh… Hh… Hnh”. Nafas nya masih ter-engah engah karena berlari sejak tadi. -“Deg”- Sesaat Shika merasa jantung nya berhenti berdetak. “Ah, …” Suara nya tidak keluar, Shika ingin berkata sesuatu, dia merasa ada seseorang di belakang yang tiba-tiba membuatnya berhenti. “Bodohnya, kenapa aku memilih lewat sini…” Ah rasanya penyesalan Shika cukup beralasan. Ini lah kenapa masyarakat Sakuragaoka tidak menggunakan tanah ini sebagai jalan menuju kuil. .. Ini tempat bermain Sakuya-sama. .. Cafe milik Kakek Tsurugi tidak begitu saja dibangun tepat di pinggir tanah ini, ada alasan kuat. Hmmm, setidaknya Shika berpikir seperti itu. Sama seperti ketika menanyakan soal pohon-pohon sakura, Shika tidak pernah mendapat jawaban yang jelas. Yah, itu juga karena Shika tidak pernah benar-benar bertanya mengenai kedua hal itu, toh dia bukan anak perempuan yang selalu ingin tahu.

Tapi Shika masih terdiam di situ. Hening. Shika merasa ada sedikit tekanan di perut nya. Dan dia pun mendengar sesuatu. Suara nya cukup jelas, walau hampir seperti bisikan. Suara anak perempuan. Tidak, tidak, situasinya tidak se-seram itu kok. Shika justru merasa familiar dengan suara tersebut, atau lebih tepatnya dengan nyanyian tersebut. Anak perempuan itu menyanyikan komori- uta, dan Shika benar-benar kenal dengan nyanyian itu. Ya, semua anak perempuan di Sakuragaoka tentu kenal dengan lagu ninabobo khas Sakuragaoka. Tapi siapa yang menyanyikan komori-uta di tempat seperti itu… Saat semua orang sedang berada di kuil untuk perayaan musim semi.

Dan tiba-tiba Shika tersentak, kaget. Telepon genggam nya berdering. Dia masih bisa merasakan hangat nya matahari senja, hembusan angin melewati pipi nya, juga suara burung-burung yang ingin pulang ke sarang nya dari kejauhan. Telepon genggam nya masih berdering. Ugh.. Ini pasti Nanaka. Shika membayangkan wajah Nanaka yang cemberut marah, “hahaha..” Shika tertawa kecil. Oh, dia juga melanjutkan lari nya, toh dari tempat tadi dia berhenti, Kuil Konohana Sakuya-hime sudah terlihat.

Shika sedang menaiki anak tangga kuil, dan dia masih mengira-ngira siapa anak perempuan barusan. Tapi melihat Nanaka yang sudah menunggu di atas sana. pikiran Shika langsung buyar. Nanaka kalau marah bisa menyebalkan sekali… Karena dia hanya diam.. ugh… Siapa yang tidak sebal jika didiamkan begitu saja selama beberapa hari… Jadi Shika harus memikirkan alasan bagus supaya Nanaka tidak marah. Ah, Shika ingat Aihara… kalau tidak salah Aihara mengambil part time di ロサリア, Cafe milik kakek Tsurugi. Fufufu~ “Baiklah bagaimana kalau kita makan siang di ロサリア besok siang, biar aku yang traktir…” Lebih bagus kalau sambil menundukkan kepala dan menyatukan telapak tangan di depan. Shika sedang menyusun rencana permohonan maaf nya untuk Nanaka. Lagipula dia tidak perlu benar-benar mentraktir Nanaka, karena bisa minta digratiskan oleh Aihara Akito. “Ku serahkan padamu, Aihara-kun…” Shika tersenyum menang.

Tapi ekspresi wajah Nanaka justru diluar dugaan…